Minggu, 13 November 2011

KTI Chronic Kidney Disease, (CKD)

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Chronic Kidney Disease, (CKD) merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversibel dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit sehingga terjadi uremia. Diperkirakan hingga tahun 2015 Data WHO dengan kenaikan dan tingkat persentase dari tahun 2009 sampai sekarang 2011 sebanyak 36 juta orang warga  dunia meninggal dunia akibat penyakit Cronic Kidney Disease (CKD). (Data survey, 2011)
Indonesia termasuk tingkat penderita gagal ginjal yang cukup tinggi. Menurut data dari Penetri (Persatuan Nefrologi Indonesia) sampai 2 Januari 2011 di perkirakan ada 70 ribu penderita gagal ginjal di Indonesia yang membutuhkan cangkok ginjal.
Di Provinnsi Sulawesi Utara sendiri kenaikannya mencapai 32% dari tahun 2009 lalu akibat banyaknya jumlah wisatawan baik dalam maupun luar negeri yang dating berwisata, wisatawan-wasatawan tersebut banyak mengidap penyakit penyakit Cronic Kidney Disease (CKD) itu yang menjadi salah satu faktor banyaknya penderita gagal ginjal akut di Kota Pariwisata itu (Manado Kidney Care center, 2011).
Pelayanan asuhan keperawatan di tujukan untuk mempertahankan, meningkatkan kesehatan dan menolong individu untuk mengatasi secara tepat masalah kesehatan sehari-hari, penyakit, kecelakaan, atau ketidak mampuan bahkan kematian (Depkes 2004).
B.     Ruang Lingkup
      Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka penulis membatasi penelitian bagaimana pemberian Asuhan Keperawatan pada klien Nn. L. M dengan Chronic Kidney Desease (CKD) di ruang Irina C2 BLU RSUP Prof Dr. R.D Kandou Manado.
C.     Tujuan Penulisan
1.      Tujuan Umum :
Tujuan penulisan ini adalah untuk mendapatkan gambaran dan pengalaman langsung tentang bagaimana menerapkan Asuhan Keperawatan pada klien Nn. L. M dengan Chronic Kidney Desease (CKD) di ruang Irina C2 BLU RSUP Prof Dr. R.D Kandou Manado.
2.      Tujuan Khusus            :
                            a.     Dilakukan pengkajian pada klien Nn. L. M dengan Chronic Kidney Desease (CKD) di ruang Irina C2 BLU RSUP Prof Dr. R.D Kandou Manado.
                           b.     Ditentukan diagnosa keperawatan pada klien Nn. L. M dengan Chronic Kidney Desease (CKD) di ruang Irina C2 BLU RSUP Prof Dr. R.D Kandou Manado.
                            c.     Dibuat rencana tindakan keperawatan pada klien Nn. L. M dengan Chronic Kidney Desease (CKD) di ruang Irina C2 BLU RSUP Prof Dr. R.D Kandou Manado.
                           d.     Dilakukan tindakan keparawatan pada klien Nn. L. M dengan Chronic Kidney Desease (CKD) di ruang Irina C2 BLU RSUP Prof Dr. R.D Kandou Manado.
                            e.     Di lakukan evaluasi keperawatan pada klien Nn. L. M dengan Chronic Kidney Desease (CKD) di ruang Irina C2 BLU RSUP Prof Dr. R.D Kandou Manado.
                            f.     Di ketahui kesenjangan antara teori dan praktek pada klien Nn. L. M diruang Irina C2 dengan diagnosa Chronic Kidney Disease (CKD) di ruang Irina C2 BLU RSUP Prof Dr. R.D Kandou Manado.
D.    Manfaat Penulisan
1.       Rumah Sakit  
 Dapat  digunakan  sebagai   bahan   pertimbangan   dan  masukan dalam
upaya meningkatkan mutu pelayanan Kesehatan khususnya penerapan asuhan keperawatan pada klien Mengetahui Asuhan Keperawatan Chronic Kidney Desease (CKD).
2.      Institusi         Pendidikan
Menjadi masukan bagi institusi guna menambah literatur / referensi untuk kelengkapan perkuliahan.                     
3.      Klien dan keluarga
Menambah  pengetahuan  klien  dan  keluarga  tentang       penyakit     Mengetahui Asuhan Keperawatan Chronic Kidney Desease (CKD), terutama tentang cara  pencegahan dan penanggulangannya.


4.      Penulis         
Sebagai prasyarat mendapat gelar Ahli Madya Keperawatan, dan menjadi bahan acuan untuk menambah pengetahuan.
E.     Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan penulis dalam menyusun Karya Tulis Ilmiah ini adalah dengan cara :
1.      Wawancara  
Wawancara dilakukan pada klien, keluarga klien, perawat-perawat  dan dokter.
2.      Observasi     
Observasi  dilakukan  pada  klien   selama  4   hari   dengan pengamatan  langsung  pada  klien. Mengkaji data dari  klien untuk mengetahui keadaan dan perkembangan klien untuk mendapatkan
   kesimpulan tentang penerapan asuhan keperawatan.
3.      Dokumentasi  
 Pengumpulan data yang berhubungan dengan kasus Mengetahui Asuhan Keperawatan Chronic Kidney Disease (CKD),di RSUP PROF Dr. R.D Kandou Manado.
4.      Studi Kepustakaan 
Mengunakan literatur-literatur yang ada kaitannya dengan klien di RSUP PROF Dr. R.D Kandou Manado.



F.      Sistematika Penulisan
BAB I               :     Pendahuluan yang meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.
BAB II               :      Tinjauan teoritis yang meliputi
                                  Konsep medik meliputi :
                                  Definisi, etiologi, anatomi fisiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan diagnostik.
                                  Konsep dasar asuhan keperawatan meliputi :
                                  Pengkajian, diagnose keperawatan, perencanaan keperawatan, implementasi keperawatan dan evaluasi keperawatan, serta penyimpangan KDM.
BAB III             :     Tinjauan kasus yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
      BAB IV                            :           Pembahasan berupa kesenjangan antara teori dan praktek
      BAB V                              :           Penutup yang berisi kesimpulan dan saran.
            DAFTAR PUSTAKA







BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A.    Konsep Medik
1.      Definisi
Chronic Kidney Disease (CKD) biasanya akibat akhir dari kehilangan fungsi ginjal lanjut secara bertahap (Doenges, 1999; 626). Kegagalan ginjal kronis terjadi bila ginjal sudah tidak mampu mempertahankan lingkungan internal yang konsisten dengan kehidupan dan pemulihan fungsi tidak dimulai. Pada kebanyakan individu transisi dari sehat ke status kronis atau penyakit yang menetap sangat lamban dan menunggu beberapa tahun. (Long, B.C. 1996).
Chronic Kidney Disease (CKD) atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit,menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah). (Smeltzer dan Bare, 2001)
Gagal ginjal kronik merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif dan lambat,biasanya berlangsung beberapa tahun. (Price, 1992)
2.      Anatomi Fisiologi Ginjal dan Nefron.





Gambar 1.1 Anatomi Fisiologi Ginjal dan Nefron.
(Anonim, 2011)
                     a.            Renal Capsule (Fibrous Capsule), Tiap ginjal dibungkus oleh suatu membran transparan yang berserat yang disebut renal capsule.
                    b.            Cortex merupakan lapisan pembungkus ginjal , merupakan jaringan yang kuat yang melindungi lapisan dalam ginjal.
                     c.            Medulla berada dibawah Cortex. Bagian ini merupakan area yang berisi 8 sampai 18 bagian berbentuk kerucut yang disebut piramid, yang terbentuk hampir semuanya dari ikatan saluran berukuran mikroskopis.
                    d.            Pelvis renalis berada di tengah tiap ginjal sebagai saluran tempat urin mengalir dari ginjal ke kandung kemih.
                     e.            Vena Renal dan Arteri Renal Dua dari pembuluh darah penting, vena renal dan arteri renal. Dua pembuluh ini merupakan percabangan dari aorta abdominal (bagian abdominal dari arteri utama yang berasal dari jantung) dan masuk kedalam ginjal melalui bagian cekung ginjal.
                     f.            Nephrons merupakan unit fungsional dari ginjal dalam menjalankan fungsi ini.
                    g.            Glomerulus adalah filter utama dari nefron dan terletak dalam Bowman's capsule.
                    h.            Henle's Loop, merupakan bagian dari tubulus renal yang kemudian menjadi sangat sempit yang menjulur jauh kebawah kapsul Bowman dan kemudian naik lagi keatas membentuk huruf U.
                      i.            Renal Collecting Tubule (Tubulus Pengumpul) Disebut juga Pembuluh Bellini, suatu pembuluh kecil sempit yang panjang dalam ginjal yang mengumpulkan dan mengangkut urin dari nefron.
                      j.            Kapsula bowman Merupakan suatu invaginasi dari tubulus proksimal, terdapat ruang yang mengandung urine antara rumbai kapiler dan kapsula bowman, dan ruang yang mengandung ini dikenal dengan nama ruang bowman atau ruang kapsular.
3.      Etiologi
                         a.            Infeksi : pielonefritis kronik
                         b.            Penyakit peradangan : glomerulonefritis
                         c.            Penyakit vascular hipertensif : nefroskleloris beningna, nefrosklerosis maligna, stenosis arteria renalis
                        d.            Gangguan jaringan penyambung : lupus eritematosus sistemik, polierteritis nodosa, sklerosis sistemik progresif
                         e.            Gangguan congenital dan herediter : penyakit ginjal polikistik dan asidosis tubulus ginjal
                          f.            Penyakit metabolik : diabetes mellitus, gout, hiperparatiroidisme.
4.      Patofisiologi
Fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein (yang normalnya diekskresikan dalam urine) tertimbun dalam darah. Terjadi uremia dan mempengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin banyak tertimbun produk sampah, maka gejala akan semakin berat.
      Menurunnya filtrasi glomerulus (akibat tidak berfungsinya glomeruli) klirens kreatinin akan menurun dan kadar kreatinin serum akan meningkat.


Chronic Kidney Disease (CKD) di bagi 3 stadium :
a.       Stadium I     : Penurunan cadangan ginjal, pada stadium kadar  kreatinin serum normal dan penderita asimptomatik
b.      Stadium II : Insufisiensi ginjal, dimana lebih dari 75% jaringan telah rusak, blood urea nitrogen (BUN) meningkat, kreatinin serum meningkat
c.       Stadium III           : Gagal ginjal stadium akhir atau uremia
(Kidney Disease Outcome Quality Initiative (K/DOQ) I merekomendasikan pembagian CKD berdasarkan stadium dari tingkat penurunan LFG).
5.      Manifestasi klinis
Manifestasi klinik antara lain (Long, 1996):
                                     a.          Gejala dini : lethargi, sakit kepala, kelelahan fisik dan mental, berat badan berkurang, mudah tersinggung, depresi
                                                   b.     Gejala yang lebih lanjut : anoreksia, mual disertai muntah, nafas dangkal atau sesak nafas baik waktui ada kegiatan atau tidak, udem yang disertai lekukan, pruritis mungkin tidak ada tapi mungkin juga sangat parah.
Manifestasi klinik menurut (Smeltzer, 2001 : 1449) antara lain : hipertensi, (akibat retensi cairan dan natrium dari aktivitas sisyem renin – angiotensin – aldosteron), gagal jantung kongestif dan udem pulmoner (akibat cairan berlebihan) dan perikarditis (akibat iriotasi pada lapisan perikardial oleh toksik, pruritis, anoreksia, mual, muntah, dan cegukan, kedutan otot, kejang, perubahan tingkat kesadaran, tidak mampu berkonsentrasi). Gangguan gastrointestinal : Anoreksia, nausea, dan vomitus yang berhubungan dengan atau metabolisme protein dalam usus.
6.      Pemeriksaan Diagnostik
Menurut Suyono (2001), untuk menentukan diagnosa pada CKD dapat dilakukan cara sebagai berikut:
1. Pemeriksaan laboratorium
Menentukan derajat kegawatan CKD, menentukan gangguan sistem dan membantu menetapkan etiologi.
2. Pemeriksaan USG
Untuk mencari apakah ada batuan, atau massa tumor, juga untuk mengetahui beberapa pembesaran ginjal.
3. Pemeriksaan EKG
    Untuk melihat kemungkinan hipertropi ventrikel kiri, tanda-
tanda perikarditis, aritmia dan gangguan elektrolit
7.      Penanganan Medik
a.       Dialisis (cuci darah)
b.      Obat-obatan: antihipertensi, suplemen besi, agen pengikat fosfat, suplemen kalsium, furosemid (membantu berkemih)
c.       Diit rendah protein dan tinggi karbohidrat
d.      Transfusi darah
e.       Transplantasi ginjal


B.     Konsep Dasar Keperawatan
1.    Pengkajian Keperawatan
Merupakan langkah pertama dari proses keperawatan dengan mengumpulkan data-data yang akurat dari klien sehingga akan diketahui berbagai permasalahan yang ada. (Hidayat, 2004).
Data dasar pengkajian.
a.       Aktivitas/Istirahat
Gejala :            Kelelahan ekstrem, kelemahan,malaise.
            Gangguan tidur (insomnia/gelisah atau somnolen)
 Tanda :  Kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan  rentang   gerak.
b.       Sirkulasi
Gejala  :           riwayat hipertensi lama atau berat
 Palpitasi : nyeri dada (angina)
Tanda  : Hipertensi ; DVJ, nadi kuat, edema jaringan umum dan pitting pada kaki, telapak, tangan. Disritmia jantung. Nadi lemah halus, hipertensi ortostatik menunjukkan hipovolemia, yang jarang pada panyakit tahap akhir. Friction rub pericardial (respons terhadap akumulasi sisa). Pucat;kulit coklat kehijauan, kuning. Kecenderungan perdarahan.
c.       Integritas Ego
Gejala  : Faktor stres, contoh finansial, hubungan, dan sebagainya  Perasaan tak berdaya, tak ada harapan, tak ada kekuatan
Tanda  :   menolak, ansietas, takut, marah, mudah terangsang, perubahan kepribadian.
d.      Eliminasi
Gejala :    Penurunan frekuensi urine, oliguria, anuria (gagal tahap      lanjut). Abdomen kembung, diare, atau konstipasi.
Tanda :    Perubahan warna urine, contoh kuning pekat, merah, coklat, berawan. Oliguria, dapat menjadi anuria.
e.       Makanan/Cairan
Gejala  :   Peningkatan berat badan cepat (edema), penurunan berat badan (malnutrisi) Anoreksia. Nyeri ulu hati, mual/muntah, rasa metalik tak sedap pada mulut (pernapasan amonia). Penggunaan diuretik
Tanda  :           distensi abdomen/asites, pembesaran hati (tahap akhir)
Perubahan turgor kulit/kelembaban.Edema (umum, tergantung). Ulserasi gusi, perdarahan gusi/lidah. Penurunan otot, penurunan lemak subkutan, penampilan tak bertenaga.
f.       Neurosensori
Gejala :            sakit kepala, penglihatan kabur.
Tanda :    gangguan status mental, contoh penurunan lapang perhatian.
g.      Nyeri/Kenyamanan
Gejala :  Nyeri panggul, sakit kepala;kram otot/nyeri kaki (memburuk saat malam hari)       
Tanda :  Perilaku berhati-hati/distraksi,gelisah
h.  Pernapasan
Gejala :  Napas pendek; dispneanoktural paroksismal; batuk dengan/tanpa sputum kental dan banyak
Tanda :  Takipnea, dispnea, peningkatan frekuensi/kedalaman (pernapasan kussmaul), Batuk produktif dengan sputum merah muda encer (edema paru)
i.        Pemeriksaan Diagnostik
Urine : volume, warna, berat jenis, osmolalitas, klirens kreatinin, natrium, protein.
Darah : BUN/Kreatinin, HT, SDM, GDA, Natrium Serum, Kalium, Magnesium/fosfat, kalsium, protein, osmolalitas serum, KUB Foto, Pielogram retrograde, arteriogram ginjal, sistouretrogram berkemih, ultrasono ginjal, Biopsi ginjal, endoskopi ginjal, nefroskopi, EKG.
2.      Diagnosa Keperawatan
Merupakan keputusan klinis mengenai seseorang, keluarga, atau masyarakat sebagai akibat dari masalah kesehatan atau proses kehidupan yang actual atau potensial. Yang dimaksud masalah actual adalah masalah yang ditemukan pada saat dilakukan pengkajian, sedangkan masalah potensial adalah kemungkinan akan timbul kemudian (ANA, 1995).



Diagnosa Keperawatan teoritis yang muncul pada Chronic Kidney Disease (CKD) .(Smeltzer & Bare, 2002) :
a.         Kelebihan Volume Cairan berhubungan dengan Volume. interstisial naik
b.        Penurunan curah jantung berhubungan dengan Hipertrofi ventrikel kiri
c.         Gangguan integritas kulit berhubungan dengan pruritus.
d.        Resiko kekurangan  nutrisi berhubungan dengan suplai nutrisi dalam darah turun.
e.         Intoleransi aktivitas berhubungan dengan suplai Oksigen menurun.







3.      Perencanaan Keperawatan
                                                                                                                               Tabel 2.1 Rencana Keperawatan
No
Diagnosa Keperawatan
Tujuan
Kriteria hasil
Intervensi
Rasional
1.
Kelebihan Volume Cairan berhubungan dengan Voume. interstisial naik

Mempertahankan berat tubuh ideal tanpa kelebihan cairan
1)      Menunjukan perubahan-perubahan berat badan yang lambat
2)      Mempertahankan pembatasan diet dan cairan
3)       turgor kulit normal tanpa edema

4)      Menunjukan tanda-tanda vital normal

5)      Menunjukan adanya distensi vena leher



6)      Melakukan higiene oral dengan sering                      

1)      Kaji satatus cairan



2)      Batasi masukan cairan

3)      Identifikasi sumber potensial
cairan
4)      Jelaskan pada klien dan keluarga
rasional pembatasan
5)      Bantu klien dalam menghadapi
ketidaknyamanan akibat
pembatasan cairan
6)      Tingkatkan dan dorong higine
oral dengan sering.
1)      Pengkajian merupakan data dasar dan data dasar berkelanjutan untuk memantau perubahan dan mengevaluasi intervensi
2)      Pembatasan cairan akan menentukan berat tubuh ideal, haluaran urin, dan respons terhadap terapi
3)      Sumber kelebihan cairan yang tidak diketahui dapat diidentifikasi

4)      Pemahaman peningkatan kerjasama klien dan keluarga dalam pembatasan cairan
5)      Kenyamanan klien meningkatkan kepatuhan terhadap pembatasan diet



6)      Higiene oral mengurangi kekeringan membran mukosa mulut.

2.
Penurunan curah jantung berhubungan dengan Hipertrofi ventrikel kiri
1)      Keseimbangan cairan atau elektrolit stabil
2)      Komplikasi tercegah atau minimal
3)      Proses penyakit yang prognosis dan program pengobatan dipahami.
4)      Menerima secara nyata terhadap situasi melakukan perubahan pula hidup yang diperlukan
Mempertahankan curah jantung dengan bukti TD dan frekwensi jantung dalam batas normal nadi perifer kuat dan sama dengan waktu pengisian kapiler.


1)      Auskultasi bunyi jantung dan paru.


2)      Kaji adanya derajat hipertensi.

3)      Selidiki keluhan nyeri dada.


4)      Kaji tingkat aktivitas, respon terhadap aktivitas.

1)      S3/S4 dengan tonus muffled, takikardi, frekwensi jantung tak teratur, takipnea, dispnea, mengi dan edema.
2)      Hipertensi bermakna dapat terjadi karena gangguan pada system aldosteron renin-angiotensin.
3)      Hipertensi dan GJK dapat menyebabkan IM, kurang lebih klien CKD dengan dialysis mengalami perikarditis.
4)      Kelelahan dapat menyertai GJK juga anemia.

3.
Gangguan integritas kulit berhubungan dengan pruritus.

Menunjukkan perilaku tehnik untuk mencegah kerusakan atau cedera kulit.
Mempertahankan kulit utuh.





1)      Inspeksi kulit terhadap perubahan warna, turgor, vaskular.
2)      Inspeksi area tergantung terhadap udema.


3)      Pertahsakan linen kering, bebas keriput, selidiki keluhan gatal.
4)      Anjurkan klien menggunakan kompren lembab dan dingin untuk memberikan tekanan pada area pruritus.
1)      Menandakan area sirkulasi buruk atau kerusakan yang dapat menimbulkan pembentukan dekubitus atau infeksi
2)      Mendeteksi adanya dehidrasi atau hidrasi berlebihanyang mempengaruhi sirkulasi dan integritas
Jaringan pada tingkat seluler.
3)      Menurunkan tekanan pada udema, jaringan dengan perfusi buruk untuk menurunkan iskemia.

4)      Soda kue, mandi dengan tepung menurunkan gatal dan mengurangi pengeringan dari pada sabun.


4
Resiko kekurangan  nutrisi berhubungan dengan suplai nutrisi dalam darah turun.

mempertahankan masukan nutrisi yang adekuat.
1)      Mempertahankan masukan nutrisi yang adekuat dengan kriteria hasil: menunjukan BB stabil
1)      Awasi konsumsi makanan / cairan
2)      Perhatikan adanya mual dan muntah
3)      Berikan makanan sedikit tapi sering.
4)      Tingkatkan kunjungan oleh orang terdekat selama makan
1)      Mengidentifikasi kekurangan nutrisi
2)      Gejala yang menyertai akumulasi toksin endogen yang dapat mengubah atau menurunkan pemasukan dan memerlukan intervensi
3)      Porsi lebih kecil dapat meningkatkan masukan makanan
4)      Memberikan pengalihan dan meningkatkan aspek sosial
5.
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan suplai Oksigen menurun.

Setelah diberikan tindakan keperawatan klien dapat melakukan aktivitas sendiri.
Berpastisipasi dalam aktivitas yang di inginkan atau diperlukan melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat di ukur,

1)      instrusikan klien dengan cara menghemat energi misalnya melakukan aktivitas dan perihal.
2)      Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas atau perawatan dari bertahap jika dapat di toleransikan sesuai kebutuhan.
1)      Dengan tehnik menghemat energi penggunaan energin juga membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.



2)      Kemampuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan kerja otot dan jantung, dan memberikan bantuan hanya sebatas kebutuhan.






4.      Implementasi
Merupakan langkah keempat dalam tahap proses keperawatan dengan melaksanakan berbagai strategi keperawatan (tindakan keperawatan) yang telah direncanakan dalam rencana tindakan keperawatan. Dalam pelaksanaan rencana tindakan terdapat 2 jenis tindakan, yaitu tindakan mandiri perawat dan tindakan kolaborasi (Hidayat, 2004).
5.      Evaluasi
Merupakan  langkah  terakhir  dari  proses  perawatan dengan cara melakukan identifikasi sejauh mana tujuan dari rencana keperawatan tercapai atau tidak. Dalam          melakukan evaluasi perawat seharusnya memiliki pengetahuan dan kemampuan       dalam memahami respon terhadap intervensi keperawatan, kemampuan menggambarkan kesimpulan tentang tujuan yang dicapai serta kemampuan dalam menghubungkan tindakan keperawatan pada kriteria hasil (Hidayat, 2004).









BAB III
TINJAUAN KASUS
1.      Pengkajian
1.      Identitas klien
a.       Nama                                                                                  : Na. L.M
b.      Umur / TTL                                                            : 19 Tahun
c.       Jenis kelamin                                                          : Perempuan
d.      Agama                                                                                : Kristen
e.       Pendidikan                                                 : SMA
f.       Suku/Bangsa                                                           : Toraja/ Indonesia
g.      Tanggal / Jam MRS                                    : 07.06.2011
h.      Tanggal / Jam Pengkajian   : 08.06.2011
i.        No. Med. Rec                                                         : 280631
j.        Diagnosa Medis                                          : CKD
2.      Penanggung jawab
a.       Nama                                                                                  : Ny. B.M
b.      Umur                                                                                  : 23 Tahun
c.       Pekerjaan                                                                : Mahasiswa
d.      Agama                                                                                : Kristen
e.       Hubungan dengan klien                 : Kakak kandung.
3.      Keluhan utama                                                            : Badan terasa lemah.
4.      Riwayat Kesehatan.
a.       Riwayat kesehatan sekarang
Kram- kram di alami klien sejak kurang lebih 2 hari sebelum masuk
rumah sakit. Awalnya penderita sedang duduk tiba-tiba dirasakan kram-kram di seluruh bagian badan. Kram/ kesemutan terasa kurang lebih sekitar dua jam, kemudian berkurang dengan sendirinya secara perlahan-lahan. Klien dilakukan pendekatan dengan terapuetik, menjelaskan tentang penyakit yang di derita klien serta di lakukan Asuhan Keperawatan untuk mengatasi masalah keluhan klien.
P   : Kedua pinggang kiri dan kanan terasa sakit
Q : klien merasakan nyeri di kedua pinggang kiri dan kanan
R : Pinggang kiri dan kanan
S : Skala nyeri 6 (nyeri sedang)
T : Pada pagi hari berlangsung sekitar 15 menit.
b.      Riwayat Kesehatan dahulu
1)      Riwayat imunisasi klien lengkap
2)      Penyakit masa kanak-kanak yaitu flu, batuk, sakit kepala.
3)      Klien pernah mengalami hipertensi dan terkontrol dengan terapi oral catopril
4)      Klien tidak mempunyai riwayat alergi baik obat dan makanan.
c.       Riwayat kesehatan keluarga
Ada anggota keluarga yang mengalami hipertensi.





            Genogram
 




Keterangan                             
Laki-laki                                                          :
Perempuan                                          :
Klien / Klien                                        :
Tinggal serumah                                  :          
Garis keturunan                                   :
Meninggal                                           :
5.      Pemeriksaan fisik
                         a.            Keadaan umum klien : tampak sakit sedang
                        b.            Tanda-tanda vital :
TD : 140/90 mmHg
SB : 35.5 ºC
N   : 98x/ m
R  : 20x/ m
6.      Riwayat psikososial
1)      Pola konsep diri
a)    Sebelum sakit  :
Klien sebagai ibu rumah tangga, klien sering mengerjakan pekerjaan rumah setiap hari.
b)   Saat dikaji       :
Klien mengatakan dirinya tidak mampu mengerjakan pekerjaan rumah lagi karena sedang sakit sehingga perannya sebagai ibu rumah tangga juga terganggu karena penyakitnya.
2)      Pola kongnitif
a)    Sebelum sakit  :
Klien sudah mengetahui tentang nama penyakit yang dideritanya yaitu diabetes mellitus tetapi klien belum mengetahui cara penanganannya.
b)   Saat dikaji       :
Klien menanyakan tentang penyakitnya. Klien mengatakan ingin cepat sembuh agar berkumpul kembali dengan keluarganya.
3)      Pola koping
a)    Sebelum sakit  :
Apabila ada masalah dalam keluarga, klien sering berkumpul dan bertukar pendapat satu dan yang lain, terutama pada suaminya.
b)   Saat dikaji       :
Klien mengatakan dalam mengatasi masalahnya, klien selalu menceritakan pada keluarganya terutama pada suaminya.
4)      Pola interaksi
a)    Sebelum sakit  :
Klien selalu bersosialisasi dengan tetangga dan masyarakat di tempat tinggalnya.

b)   Saat dikaji       :
Klien selalu berhubungan baik dengan keluarganya dan juga sesama klien di rumah sakit.
a.       Riwayat spiritual
1)   Ketaatan klien beribadah       
a)   Sebelum sakit          :
Klien rajin beribadah di gereja.
b)   Saat dikaji   :
Klien mengatakan beragama kristen protestan dan klien hanya dapat berdoa di tempat tidur.    
2)   Dukungan keluarga klien
a)   Sebelum sakit          :
Keluarga klien berharap agar sakit yang diderita klien dapat sembuh.
b)   Saat dikaji   :
Klien mengatakan keluarga klien selalu berdoa kepada tuhan agar klien diberi kekuatan dan dapat sembuh dari penyakit yang dialaminya.
3)   Ritual yang biasa dilakukan klien
a)   Sebelum sakit          :
Klien selalu beribadah di gereja setiap minggu dan mengikuti ibadah-ibadah ditempat lain.


b)   Saat dikaji   :
Klien mengatakan hanya mampu berdoa ditempat tidur karena tidak mampu kegereja.
7.      Pola aktivitas sehari-hari
a.       Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Sebelum sakit         :
klien mandi 2 x sehari menggunakan sabun, sikat gigi dan pasta gigi, serta menggunakan pakaian yang bersih
Saat sakit                :
Klien belum bisa mandi, hanya membasu muka, tangan dan kaki.
b.      Pola nutrisi
Sebelum sakit         :
Klien makan 3x/ hari dengan menu nasi, sayur, dan minum 7-8 gelas/ hari.
Saat di kaji  :
Klien makan bubur rendah garam dan minum air putih ± 3 gelas/ hari dan porsi makan tidak di habiskan hanya 4-5 sendok saja.
c.       Pola eliminasi
Sebelum sakit         :
Sebelum dan sesudah sakit 1x sehari, kosistensi padat, bau khas feses.
Saat di kaji  :
Sebelum sakit :3-4x sehari, kosistensi jernih, bau khas amoniak. Saat sakit : 4-5x sehari, warna kuning, bau khas amoniak.

d.      Pola aktivitas
Sebelum sakit         :
Klien tidak bekerja hanya tinggal di rumah.
Saat di kaji  :
Klien terbaring di rumah sakit dalam keadaan lemah dan aktivitas klien di bantu oleh keluarga dan perawat.
e.       Pola istirahat dan tidur
Sebelum sakit         :
Pola tidur teratur, kadang tidur siang karena bekerja malam klien tidur jam 21.00 sampai 05.00.
Saat di kaji              :
Klien kadang sekali tidur siang, kalau malam sebelum tidur minum obat klien tidur jam 01.00 sampai 04.00.
f.       Pola pengetahuan
Sebelum sakit         :
Klien mengetahui jati dirinya
Saat di kaji              :
Klien belum dapat melaksanakan apa-apa karena klien sedang sakit.
g.      Pola persepsi dan konsep diri
Sebelum sakit         :
Klien mengetahui info kesehatan lewat media cetak dan elektronik.
Saat di kaji              :
Klien mengetahui dirinya dalam keadaan sakit dan dilakukan pengobatan.
h.      Pola hubungan dengan orang lain
Sebelum sakit                     :
Klien mengikuti kegiatan kemasyarakatan seperti arisan, ibadah di rumah maupun digereja.
Saat dikaji                           :
Klien mampu berinteraksi dengan keluarga, perawat, maupun masyarakat yang datang menjenguknya
i.        Pola manajemen stress
Sebelum sakit                     :
Klien mampu menghadapi stress dalam menghadapi masalah-masalah.
Saat dikaji                           :
Klien sering kali tidak dapat menghadapi stress karena berhubungan dengan penyakit yang dideritanya.
j.        Pola nilai kepercayaan
Sebelum sakit                     :
Klien beragama kristen protestan dan rajin beribadah digereja maupun
dirumah.
Saat dikaji                           :
Klien tidur terbaring ditempat tidur dan hanya mampu berdoa agar cepat sembuh.
8.      Pemeriksaan fisik
a.       Keadaan umum klien : tampak sakit sedang
b.      Tanda-tanda vital :
TD : 140/90 mmHg, SB : 35.5 ºC, N   : 98x/ m, R  : 20x/ m
c.         Sistem pernafasan                     
1)        Hidung        : Simetris kiri dan kanan, pernafasan cuping hidung normal.
2)        Sekret         : Tidak terdapat sekret
3)        Polio           : Tidak ada
4)        Leher           : Pembesaran kelenjar, tidak ada
5)        Tumor        : Tidak ada 
6)        Dada           :
a)      bentuk dada : simetris
b)      Gerakan dada ( kiri dan kanan)
c)      Perbandingan ukuran anterior posterior dengan transversal
d)     Suara nafas : normal
e)      Otot bantu pernafasan : tidak ada
d.        Sistem cardiovaskuler
1)        Konjungtiva anemia, bibir pucat, arteri karotis lemah, tekanan vena jugularis tidak meninggi.
2)        Ukuran jantung tidak terkaji
3)        Suara jantung tidak terkaji
e.         Sistem pencernaan
1)      Bibir                        : Kering/ pecah-pecah.
2)      Mulut       : kamampuan menelan baik
3)      Gaster      : tidak kembung, tidak nyeri.
4)      Feses                       : tidak encer

f.         Sistem indra
1)        Mata
Sklera                      : Tidak ikterus
Konjungtiva            : Anemis
Alis                         : Ada 
Lapang pandang     : Normal
2)      Hidung
Penciuman              : Baik
Perih dihidung        : Tidak ada
Mimisan                  : Tidak ada
Secret                      : Sekret tidak ada
3)      Telinga
Keadaan dalam telinga : simetris kiri dan kanan
Serumen                  : Tidak ada
Fungsi pendengaran: Normal
Membran timpani    : -
g.        Sistem saraf
1)      Fungsi cerebral        :
a)         Status mental orientasi : Baik
b)        Daya ingat                     : Baik
c)         Bahasa                          : Baik
d)        Bicara                            : Ekspresif


2)      Fungsi cranial          :
a)      Nervus I                                               : Olfaktorius (fungsi penciuman) klien dapat membedakan bau
b)      Nervus  II                                : Visus baik,lapang pandang baik
c)      Nervus III,IV,VI         : Gerakan bola mata baik, pupil isokor
d)     Nervus V                                             : Sensorik ada, kontraksi tonus otot baik
e)      Nervus VII                              : Sensorik baik, otonomi baik, motorik baik
f)       Nervus VIII                             : Pendengaran baik, keseimbangan baik
g)      Nervus IX                                : Saraf glosofaringeus
h)      Nervus X                                             : Gerakan ovula baik, rangsangan menelan baik
i)        Nervus XI                                : Sternokledomatoideus tidak ada, Trapexius tidak ada
j)        Nervus XII                              : Gerakan lidah, klien dapat menggerakan lidah kekiri dan ke kanan
3)      Fungsi motorik        :
Massa otot baik, tonus otot baik, kekuatan otot terbatas
4)      Fungsi sensorik       :
Suhu : SB    : 35,5◦C
Nyeri : sedang (6) menggunakan skala nyeri 1-10
Getaran : tidak ada

5)      Fungsi cerebellum :
Koordinasi baik, keseimbangan baik
h.        Sistem muskuloskeletal
1)      Kepala : kepala simetris, gerakan kepala baik
2)      Vertebrata : scoliosis - , lordosis - , kifosis - , ROM normal, fungsi gerakan - .
3)      Lutut : bengkak : tidak ada, gerakan : baik
4)      Kaki : tidak bengkak, baik
5)      Tangan : Bengkak tidak ada, gerakan kurang baik.
i.          Sistem integuman
1)      Rambut :
a)    Warna                 : hitam
b)   Temperatur         : -
c)    Mudah dicabut   : Tidak
2)      Kulit :
a)    Warna                 : Hitam
b)   Temperatur         : -
c)    Kelembaban       : lembab
d)   Bulu kulit           : ada
e)    Erupsi                 : -
f)    Tahi lalat            : -
g)   Ruam                  : - 
j.          Sistem endokrin
1)      Kelenjar tiroid : baik
2)      Ekskresi urine : normal
3)      Suhu tubuh yang tidak seimbang : tidak
4)      Riwayat bekas air seni dikelilingi semut : negatif
k.        Sistem perkemihan
1)      Oedema palpebra : tidak ada
2)      Moon face : tidak
3)      Keadaan kandung kemih : normal
4)      Nocturia (mikturisi pada malam hari) : tidak
5)      Dysuria (berkemih yang nyeri) : tidak
6)      Kencing batu : tidak
7)      Penyakit hubunga seksual : tidak
l.          Sistem imun
1)        Alergi : tidak pernah alergi
2)        Penyakit yang berhubungan dengan perubahan cuaca yaitu flu
m.    Pemeriksaan penunjang
Tanggal pemeriksaan : 08-06-2011 Jam 07.00
Kimia Klinik

Protein total
Hasil

5,5
Nilai Normal
6,3-8,3
Satuan

g/dl
Creatinine darah
11,9
0,5-1,5
Mg/dl
Ureum darah
121
20-40
Mg/dl
Albumin
Tap
3,5-5,7
g/dl
Globulin
Tap
2,5-3,5
g/dl
Natrium darah
104
135-153
Mcq/L
Kalium darah
3,1
3,4-4,5
Mcq/L
Clorida darah
70
98-109
Mcq/L




n.        Therapi / Pengobatan
Tabel 3.3
Nama obat
Dosis
Indikasi
Kontra indikasi
Efek samping
Cairan NaCl 0,9 %

Lebih dari 0,9% injeksi IV 3-5% dalam 100 ml selama 1 jam.
Bahan aktif sebagai pengganti ion Na+, Cl- dalam tubuh
Untuk klien penyakit hati perifer, udema atau pulmonalis udema, kelainan fungsi ginjal.
Keracunan NaCl di sebabkan oleh indikasi yang gagal dan dapat menyebabkan hipernatremia yang memicu terjadinya trombosit. Dan hemorage.
Injeksi Ranitidine

Tukak duo denum sehari 2 x 150 mg (pagi dan malam).
Pengobatan jangka pendek tukak duo denum dan lambung.
_
_
Furosemide

Untuk dewasa : dosis awal 20-80 mg dosis tunggal
Udema yang di sebabkan oleh payah jantung, sirosis hati, penyakit ginjal termasuk sindrom nefrotik, hipertensi ringan sampai sedang.
_
_
Valsartan

Dosis awal 40 mg 2 x/ hari. Dapat di tingkatkan menjadi 80 dan 160 mg 2 x per hari
_
Gagal hati berat, sirosis hati, obstruksi saluran empedu, hamil dan laktasi.
Sakit kepala, pusing, lelah, hipokalemia, hiperlurisemia
Panperidone

Dewasa dan usia lanjut 10-20 mg 3 x sehari.
Mual, muntah akut
Hipersensitif, penderita dengan plolaktinoma
Mulut kering, sakit kepala, diare, rasa haus cemas dan gatal

9.        Klasifikasi data
Tabel 3.1 Klasifikasi data
No
Data Subjektif
Data Objektif
1.









2.



3.



Klien mengatakan bengkak pada bagian pergelangan tangan dan klien mengatakan jarang BAK.







Klien mengatakan kurang nafsu makan



Klien mengatakan nafas terasa sesak.

-          Pergelangan klien bengkak.
-          Tanda-tanda vital :
 R   : 20x/mnt,         
 N  : 98x/mnt
 SB : 360C  
TD : 140/90mmHg 
-          Terpasang IVFD NaCl 0,9% 12 gtt/ menit.
-          Kesadaran Compos Mentis.

-         Nafsu makan menurun
-         Porsi makan tidak dihabiskan


-         Respirasi klien: 20x/m
-         Klien terbaring, tidak melakukan aktivitas seperti berjalan.





10.    Analisa Data
Tabel 3.2 Analisa Data
No.
Data
Etiologi
Masalah
1.
DS : Klien mengatakan bengkak pada bagian pergelangan tangan dan klien mengatakan jarang BAK.

DO   : Pergelangan klien bengkak.
-          Tanda-tanda vital :
 R   : 20x/mnt,         
 N  : 98x/mnt
 SB : 360C  
TD : 140/90mmHg 
-          Terpasang IVFD NaCl 0,9% 12 gtt/ menit.
-          Kesadaran Compos Mentis.
Retensi Na
Total CES menurun
Tek. Kapiler naik
Peningkatan volume intertisial
Kelebihan volume cairan

Kelebihan volume cairan.

2.
DS : Klien mengatakan kurang nafsu makan.
DO   : 
-         Nafsu makan menurun
-         Porsi makan tidak dihabiskan

Sekresi eritropoitis
Produksi Hb menurun
Anoreksia
Suplai nutrisi dalam darah turun
Resiko kekurangan nutrisi
Resiko gangguan nutrisi

3.
DS : Klien mengatakan nafas terasa sesak.
DO   :
-         Respirasi klien: 20x/m
Klien terbaring, tidak melakukan aktivitas seperti berjalan.
Menurunnya suplai O2
Intoleransi aktivitas
Intoleransi aktivitas




11.   
Obstruksi saliran kemih
 
Zat toksik
 
vaskuler
 
Infeksi
 
Penyimpangan KDM Kasus.
Iritasi/ cedera jaringan
 
Batu besar dan kasar
 
Retensi urin
 
Tertimbun ginjal
 
Reaksi antigen antibodi
 
Arterio sklerosis
 
                                                                                                     
 












B.     Diagnosa keperawatan
a.         Kelebihan volume cairan berhubungan dengan peningkatan volume interstisial.
b.         Gangguan nutrisi dan kebutuhan berhubungan dengan suplai nutrisi dalam darah turun.
c.         Intoleransi aktivitas berhubungan dengan suplai Oksigen menurun.






C.     Intervensi Keperawatan
Tabel 3.4 Perencanaan Keperawatan

Nama        : Ny. L.M                                                                                                                        No.Med.Rec         : 24.06.31
Umur        : 19 Tahun                                                                                                                       Diagnosa Medic   : Chronic Kidney Disease
No

Hari /
Tanggal
Diagnosa
Keperawatan
Perencanaan
Tujuan
Intervensi
Rasional
1.






























2.

















3.
Rabu,
08
Juni
2011



























Rabu,
08 Juni
2011















Rabu,
08 Juni
2011

Kelebihan Volume Cairan berhubungan dengan Volume. interstisial naik
,yang ditandai dengan :
DS :
Klien mengatakan bengkak pada bagian pergelangan tangan dan klien mengatakan jarang BAK.
DO:
Pergelangan klien bengkak.
-          Tanda-tanda vital :
 R   : 20x/mnt,           N  : 98x/mnt
 SB : 360C  
TD : 140/90mmHg 
-          Terpasang IVFD NaCl 0,9% 12 gtt/ menit.
-          Kesadaran Compos Mentis.
Resiko kekurangan  nutrisi berhubungan dengan suplai nutrisi dalam darah turun.
, yang ditandai dengan :
DS :
Klien mengatakan kurang nafsu makan
DO :
-         Nafsu makan menurun
-         Porsi makan tidak dihabis-kan
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan suplai Oksigen menurun.
, yang ditandai dengan :
DS :
Klien mengatakan nafas terasa sesak.
DO:
-         Respirasi klien: 20x/m
-         Klien terbaring, tidak melakukan aktivitas seperti berjalan.



Setelah diberi-kan tindakan keperawatan se-lama 4 hari, dapat di pertahankan berat tubuh ideal tanpa kelebihan cairan, dengan kriteria hasil :
DS :
Klien tidak lagi mengatakan bengkak pada pergelangan tangan.
DO :
Pergelangan klien normal.
Tanda- tanda vital tetap normal.


















Setelah diberi-kan tindakan keperawatan se-lama 3 hari, diharapkan dapat mempertahankan masukan nutrisi yang adekuat dengan kriteria hasil: menunjukan BB stabil.











Klien dapat meningkatkan aktivitas yang dapat ditoleransi.

1)      Kaji status cairan



2)      Batasi masukan cairan



3)      Identifikasi sumber potensial
Cairan
4)      Jelaskan pada klien dan keluarga
 rasional    pembatasan
5)      Bantu klien dalam menghadapi
ketidaknyamanan akibat
pembatasan cairan
6)      Tingkatkan dan dorong higine











1)        Awasi konsumsi makanan / cairan
2)      Perhatikan adanya mual dan muntah
3)      Berikan makanan sedikit tapi sering
4)      Tingkatkan kunjungan oleh orang terdekat selama makan









1)  Pantau klien untuk    melakukan aktivitas
2)  Kaji faktor yang menyebabkan ke      letihan
3)  Anjurkan aktivitas alternatif sambil istirahat
4)  Pertahankan status nutrisi yang adekuat

1)      Kelebihan cairan yang tidak teresponsif terhadap pembatasan cairan dan diuretik memerlukan dialysis.
2)      Pembatasan cairan akan menentukan berat tubuh ideal, haluaran urin, dan respons terhadap terapi

3)      Sumber kelebihan cairan yang tidak diketahui dapat diidentifikasi

4)      Pemahaman peningkatan kerjasama klien dan keluarga dalam pembatasan cairan
5)      Kenyamanan klien meningkatkan kepatuhan terhadap pembatasan diet


6)      Higiene oral mengurangi kekeringan membran mukosa mulut.











1)        Mengidentifikasi kekurangan nutrisi
2)      Gejala yang menyertai akumulasi toksin endogen yang dapat mengubah atau menurunkan pemasukan dan memerlukan intervensi
3)      Porsi lebih kecil dapat meningkatkan masukan makanan
4)      Memberikan pengalihan dan meningkatkan aspek sosial









1.      Mengetahui pola aktivitas klien

2.      Dapat mengetahui intoleransi aktivitas klien yang menyebabkan keletihan.
3.      Agar klien dapat menggerakkan setiap organ tubuh.
4.      Pola nutrisi yang seimbang dapat mempertahankan peningkatan energi klien.




Implementasi
Evaluasi
Selasa, 08  juni 2011
Jam 10.00
1.      Timbang berat badan harian Keseimbangan masukan dan haluaran Turgor kulit dan adanya oedema Tekanan darah, denyut dan irama nadi
Jam 10.10
2.      Membatasi masukan cairan
Jam 10.15
3.      Mengidentifikasi sumber potensial cairan.
Jam 10.20
4.      Menjelaskan pada keluarga klien tentang pembatasan cairan.
Jam 10.30
5.      Menjelaskan pada klien tentang pembatasan cairan.
Jam 10.45
6.      Tentukan kemampuan klien untuk berpartisipasi dalam aktifitas perawatan diri. ( skala 0 – 4 ).
berikan bantuan dengan aktifitas yang diperlukan
anjurkan keluarga untuk membantu pemenuhan ADL klien ditempat tidur.
bantu keluarga dalam perawatan diri klien ditempat tidur.
anjurkan keluarga untuk menganti alas bokong jika basah.
08 Juni 2011
Jam : 21.00
S :
Klien mengatakan bengkak berkurang
O :
Pergelangan tangan klien tidak terlalu bengkak
A :
Masalah teratasi sebagian.
P :
Lanjutkan intervensi keperawatan
1,2,3,4,5 dan 6




















Jam 11.30
1.      Warna kulit pada tangan kemerahan.
Jam 11.35
2.      Jaringan udem lebih cenderung kemerahan.
Jam 11.40
3.      Mengurangi pengeringan , kulit kemerahan.
Jam 11.45
4.      Mnganjurkan klien menggunakan kompren lembab dan dingin untuk memberikan tekanan pada area pruritus.

Jam 15.00
1.      Memantau klien melakukan aktivitas.
Jam 15.30
2.      Mengkaji faktor penyebab keletihan yaitu: suplai O2 menurun.
Jam 15.35
3.      Ajarkan ROM atau rentang gerak pada klien.
Jam 16.00
4.      Kolaborasi dengan perawat Gizi tentang pe.mberian diet untuk
5.      pemenuhan nutrisi guna peningkatan energy klien
Rabu,09 Juni
2011
Jam 17.00
S :
Klien mengatakan kemerahan pada kulit tangan sudah hilang.
O :
Kemerahan pada kulit tangan klien berkurang.
A :
Masalah teratasi
P :-



Rabu,09 Juni
2011
Jam : 21.00
S :
Klien mengatakan sesak berkurang.
O :
Respirasi klien 24x/m
Klien sudah mulai berjalan sendiri menuju kamar mandi.
A :
Masalah teratasi
P : -

D.    Implementasi dan Evaluasi
Tabel 3.5 Implementasi dan Evaluasi
No
Tanggal
Diagnosa Keperawatan
Implementasi
Evaluasi
1.












 

2.
















3.


Kamis,09 Juni
2011



















Jumat,10 Juni
2011


















Sabtu ,11 Juni
2011


Kelebihan Volume Cairan berhubungan dengan Volume. interstisial naik
,yang ditandai dengan :
DS :
Klien mengatakan bengkak pada bagian pergelangan tangan dan klien mengatakan jarang BAK.
DO:
Pergelangan klien bengkak.
-          Tanda-tanda vital :
 R   : 20x/mnt,           N  : 98x/mnt
 SB : 360C  
TD : 140/90mmHg 
-          Terpasang IVFD NaCl 0,9% 12 gtt/ menit.
-          Kesadaran Compos Mentis.




Kelebihan Volume Cairan berhubungan dengan Volume. interstisial naik
,yang ditandai dengan :
DS :
Klien mengatakan bengkak pada bagian pergelangan tangan dan klien mengatakan jarang BAK.
DO:
Pergelangan klien bengkak.
-          Tanda-tanda vital :
 R   : 22x/mnt,           N  : 84x/mnt
 SB : 360C  
TD : 130/90mmHg 
-          Terpasang IVFD NaCl 0,9% 12 gtt/ menit.
Kesadaran Compos Mentis



Kelebihan Volume Cairan berhubungan dengan Volume. interstisial naik
,yang ditandai dengan :
DS :
Klien mengatakan bengkak pada bagian pergelangan tangan dan klien mengatakan jarang BAK.
DO:
Pergelangan klien bengkak.
-          Tanda-tanda vital :
 R   : 22x/mnt,        
 N  : 80x/mnt
 SB : 360C  
TD : 130/80mmHg 
-          Terpasang IVFD NaCl 0,9% 12 gtt/ menit.
-         Kesadaran Compos Mentis.

Selasa, 09  juni 2011
Jam 10.00
1.      BB : 50
Jam 10.10
2.      Membatasi masukan cairan
Jam 10.15
3.      Mengidentifikasi sumber potensial cairan.
Jam 10.20
4.      Menjelaskan pada keluarga klien tentang pembatasan cairan.
Jam 10.30
5.      Menjelaskan pada klien tentang pembatasan cairan.
Jam 10.45
6.      Tentukan kemampuan klien untuk berpartisipasi dalam aktifitas perawatan diri. ( skala 0 – 4 ).

Selasa, 09  juni 2011
Jam 10.00
1.      Timbang berat badan harian Keseimbangan masukan dan haluaran Turgor kulit dan adanya oedema Tekanan darah, denyut dan irama nadi
Jam 10.10
2.      Membatasi masukan cairan
Jam 10.15
3.      Mengidentifikasi sumber potensial cairan.
Jam 10.20
4.      Menjelaskan pada keluarga klien tentang pembatasan cairan.
Jam 10.30
5.      Menjelaskan pada klien tentang pembatasan cairan.
Jam 10.45
6.      Tentukan kemampuan klien untuk berpartisipasi dalam aktifitas perawatan diri. ( skala 0 – 4 ).
1.      anjurkan keluarga untuk membantu pemenuhan ADL klien ditempat tidur.
bantu keluarga dalam perawatan diri klien
Jam 09.30
2.      Timbang berat badan harian Keseimbangan masukan dan haluaran Turgor kulit dan adanya oedema Tekanan darah, denyut dan irama nadi
Jam 10.00
3.      Membatasi masukan cairan
Jam 10.15
4.      Mengidentifikasi sumber potensial cairan.
Jam 10.20
5.      Menjelaskan pada keluarga klien tentang pembatasan cairan.
Jam 10.30
6.      Menjelaskan pada klien tentang pembatasan cairan.
Jam 10.45
7.      Tentukan kemampuan klien untuk berpartisipasi dalam aktifitas perawatan diri. ( skala 0 – 4 ).
berikan bantuan dengan aktifitas yang diperlukan
anjurkan keluarga untuk membantu pemenuhan ADL klien ditempat tidur.
bantu keluarga dalam perawatan diri klien
Jam : 21.00
S :
Klien mengatakan bengkak berkurang
O :
Pergelangan tangan klien masih agak bengkak
A :
Masalah belum teratasi
P :
Lanjutkan intervensi keperawatan
1,2,3,4,5 dan 6








Jam : 22.00
S :
Klien mengatakan bengkak berkurang
O :
Pergelangan tangan klien tidak terlalu bengkak
A :
Masalah belum teratasi
P :
Lanjutkan intervensi keperawatan 1,2,3 dan 4








Jam : 20.00
S :
Klien mengatakan tidak bengkak lagi
O :
Pergelangan tangan klien tampak normal
A :
Masalah teratasi
P : -

BAB IV
PEMBAHASAN

            Dalam Bab ini penulis akan membahas masalah yang ditemui selama melaksanakan Asuhan Keperawatan pada klien Ny. L.M dengan diagnosa Chronic Kidney Desease (CKD) di ruang Irina C2 BLU RSUP Prof Dr. R.D Kandou Manado. Adapun masalah tersebut berupa kesenjangan antara teori dan pelaksanaan praktek secara langsung.
            Masalah yang penulis temukan selama melaksanakan asuhan keperawatan pada Ny. L.M dengan diagnosa Chronic Kidney Desease (CKD) adalah sebagai berikut.
1.      Pengkajian
            Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan yaitu pengumpulan data yang dilakukan melalui klien, keluarga, catatan perawat, dan pemeriksaan fisik. Dan selanjutnya data tersebut dianalisa dan ditegakkan diagnosa keperawatan.
Berdasarkan pengkajian secara teoritis meliputi : Aktivitas/Istirahat : gejala : kelelahan ekstrem, kelemahan,malaise. gangguan tidur (insomnia/gelisah atau somnolen), tanda :  Kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan  rentang   gerak. Sirkulasi, gejala  :            riwayat hipertensi lama atau berat, palpitasi : nyeri dada (angina), tanda : hipertensi ; DVJ, nadi kuat, edema jaringan umum dan pitting pada kaki, telapak, tangan. Disritmia jantung. Nadi lemah halus, hipertensi ortostatik menunjukkan hipovolemia, yang jarang pada panyakit tahap akhir. Friction rub pericardial (respons terhadap akumulasi sisa). Pucat;kulit coklat kehijauan, kuning. Kecenderungan perdarahan. Integritas ego, gejala  : Faktor stres, contoh finansial, hubungan, dan sebagainya  Perasaan tak berdaya, tak ada harapan, tak ada kekuatan, tanda  :    menolak, ansietas, takut, marah, mudah terangsang, perubahan kepribadian. Eliminasi, gejala : Penurunan frekuensi urine, oliguria, anuria (gagal tahap      lanjut). Abdomen kembung, diare, atau konstipasi. Tanda : perubahan warna urine, contoh kuning pekat, merah, coklat, berawan. Oliguria, dapat menjadi anuria. Makanan/Cairan : Gejala  : Peningkatan berat badan cepat (edema), penurunan berat badan  (malnutrisi) Anoreksia. Nyeri ulu hati, mual/muntah, rasa metalik tak sedap pada mulut (pernapasan amonia). Penggunaan diuretik : Tanda : distensi abdomen/asites, pembesaran hati (tahap akhir). Perubahan turgor kulit/kelembaban.Edema (umum, tergantung). Ulserasi gusi, perdarahan gusi/lidah. Penurunan otot, penurunan lemak subkutan, penampilan tak bertenaga. Neurosensori : gejala :  sakit kepala, penglihatan kabur. Tanda : gangguan status mental, contoh penurunan lapang perhatian. Nyeri/Kenyamanan, gejala :Nyeri panggul, sakit kepala;kram otot/nyeri kaki (memburuk saat malam hari). Tanda:  Perilaku berhati-hati/distraksi,gelisah. Pernapasan : gejala :       Napas pendek; dispneanoktural paroksismal; batuk dengan/tanpa sputum kental dan banyak. Tanda : Takipnea, dispnea, peningkatan frekuensi/kedalaman (pernapasan kussmaul), Batuk produktif dengan sputum merah muda encer (edema paru).
Sedangkan pada kasus Ny. A. P dengan diabetes mellitus, penulis mendapatkan data objektif yaitu Pergelangan klien bengkak. Tanda-tanda vital : R   : 20x/mnt,  N  : 98x/mnt,  SB : 360C, TD : 140/90mmHg . Terpasang IVFD NaCl 0,9% 12 gtt/ menit. Kesadaran Compos Mentis, Nafsu makan menurun, porsi makan tidak dihabiskan, Respirasi klien: 20x/m. Klien terbaring, tidak melakukan aktivitas seperti berjalan.
Berdasarkan teori dan praktek di dapatkan kesenjangan karena tidak semua masalah yang terdapat dalam teori di temukan dalam praktek.
2.      Diagnosa Keperawatan
Dari literatur yang penulis pelajari, secara teoritis Chronic Kidney Desease (CKD) (Doenges, 1999) terdiri dari 5 diagnosa keperawatan, yaitu :
a.    Kelebihan Volume Cairan berhubungan dengan Volume. interstisial naik
b.    Penurunan curah jantung berhubungan dengan Hipertrofi ventrikel kiri
c.    Gangguan integritas kulit berhubungan dengan pruritus.
d.   Resiko kekurangan  nutrisi berhubungan dengan suplai nutrisi dalam darah turun.
e.    Intoleransi aktivitas berhubungan dengan suplai Oksigen menurun.
Sedangkan pada tinjauan kasus atau praktek asuhan keperawatan pada Ny.   L.M dengan diagnosa Chronic Kidney Desease (CKD) 5 diagnosa yaitu :
a.    Kelebihan Volume Cairan berhubungan dengan Volume. interstisial naik
b.    Resiko kekurangan  nutrisi berhubungan dengan suplai nutrisi dalam darah turun.
c.    Intoleransi aktivitas berhubungan dengan suplai Oksigen menurun.
Diagnosa yang ditemukan pada saat pengkajian ada 3 dan sesuai dengan teori yaitu kelebihan volume cairan, Resiko kekurangan  nutrisi berhubungan dengan suplai nutrisi dalam darah turun., dan  Intoleransi aktivitas berhubungan dengan suplai oksigen menurun. 2 diagnosa yang ada di teori tidak muncul pada kasus, yaitu penurunan curah jantung dan gangguan integritas kulit.
3.      Perencanaan
a.      Diagnosa I
 Kelebihan Volume Cairan berhubungan dengan Volume interstisial naik.
1)      Intervensi
Secara teoritis ada 6 intervensi. Pada kasus didapat 6 intervensi yang disesuaikan dengan pengkajian dan kebutuhan klien
2)      Implementasi
Semua implementasi dapat dilakukan sesuai dengan intervensi
3)      Evaluasi
Setelah dilakukan evaluasi selama 4 hari masalah yang dapat teratasi.
b.      Diagnosa II
Resiko kekurangan  nutrisi berhubungan dengan suplai nutrisi dalam darah turun.
1)      Intervensi
Pada teoritis terdapat 4 intervensi. Pada kasus didapat 4 intervensi yang disesuaikan dengan pengkajian dan kebutuhan klien
2)      Implementasi
      Implementasi dilakukan sesuai dengan intervensi yang ada
3)Evaluasi
      Setelah dilakukan evaluasi selama 4 hari masalah yang didapat teratasi

c.      Diagnosa III
      Resiko kekurangan  nutrisi berhubungan dengan suplai nutrisi dalam darah turun.
1)      Intervensi
Pada teoritis terdapat 4 intervensi. Pada kasus didapat 4 intervensi yang disesuaikan dengan pengkajian dan kebutuhan klien
klien
2)      Implementasi
 Implementasi dilakukan sesuai dengan intervensi yang ada
3)      Evaluasi
 Setelah dilakukan evaluasi selama 4 hari masalah teratasi.
4.      Implementasi keperawatan
Pada prinsipnya pelaksanaan merupakan realisasi dari rencana tindakkan keperawatan yang telah disusun sebelumnya, akan tetapi dalam hal-hal tertentu perawat dapat memberikan tindakkan perawatan diluar rencana yang telah disusun. Klien memiliki sifat unik yang dilihat dari ekspresi klien baik secara verbal maupun nonverbal. Tentunya hal ini berdasarkan situasi dan kondisi yang menganjurkan pelaksanaan tindakkan keperawatan yang dimiliki dan mendokumentasikan tindakan-tindakan dalam catatan keperawatan. Tindakan yang dilakukan selama perawatan dirumah sakit pada klien Nn.L. M dengan Chronic Kidney Desease (CKD)  :
Diagnosa 1 yaitu:
1.      Membatasi masukan cairan
2.      Mengidentifikasi sumber potensial cairan.
3.      Menjelaskan pada keluarga klien tentang pembatasan cairan.
4.      Menjelaskan pada klien tentang pembatasan cairan.
5.      Timbang berat badan harian Keseimbangan masukan dan haluaran Turgor kulit dan adanya oedema Tekanan darah, denyut dan irama nadi
6.      Tentukan kemampuan klien untuk berpartisipasi dalam aktifitas perawatan diri. ( skala 0 – 4 ).
Diagnosa 2 yaitu:
1.      Mengobservasi TTV dengan hasil:
      TD: 110/60 mmHg, R  : 24 x/m, N  : 66 x/m, SB: 36,5◦C
2.      Memantau masukan dan pengeluaran, catat berat jenis urine.
3.      Mengkaji nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit, dan membrane mukosa. Dengan hasil turgor kulit buruk karena adanya luka di kaki sebelah kiri.
Diagnosa 3 yaitu:
1.         Anjurkan keluarga untuk membantu pemenuhan ADL klien ditempat tidur.
bantu keluarga dalam perawatan diri klien
2.         Timbang berat badan harian Keseimbangan masukan dan haluaran Turgor kulit dan adanya oedema Tekanan darah, denyut dan irama nadi
3.         Membatasi masukan cairan
4.         Mengidentifikasi sumber potensial cairan.
5.         Menjelaskan pada keluarga klien tentang pembatasan cairan.
6.         Menjelaskan pada klien tentang pembatasan cairan.
7.         Tentukan kemampuan klien untuk berpartisipasi dalam aktifitas perawatan diri. ( skala 0 – 4 ).
E. Evaluasi
      Evaluasi merupakan tahap akhir dalam proses keperawatan untuk menilai sejauh mana sumber keberhasilan dari rencana keperawatan yang diberikan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapakan, dilakukan secara berkesinambungan dengan melibatkan langsung klien sendiri, keluarga dan tenaga kesehatan lainnya. Walaupun evaluasi dianggap sebagai tahap akhir dalam proses keperawatan, namun bukan berarti masalahnya sudah selesai atau teratasi sebagian.
Pada tahap ini penulis melakukan sesuai dengan tujuan dan kriteria yang ingin dicapai selama perawatan yang telah ditetapkan sebelumnya dengan memperhatikan respon dan perubahan-perubahan yang terjadi pada klien.













BAB V
PENUTUP

            Setelah membahas secara menyeluruh mengenai asuhan keperawatan pada Ny. L.M dengan diagnosa Chronic Kidney Desease (CKD) di ruang Irina C2 BLU RSUP Prof Dr. R.D Kandou Manado dari tanggal 08-11 juni.2011, maka pada bab ini penulis dapat menguraikan :
A.    Kesimpulan
1.      Telah dilakukan pengkajian pada klien Chronic Kidney Desease (CKD)
2.      Telah ditentukan diagnosa keperawatan pada klien Chronic Kidney Desease (CKD)
3.      Telah dibuat rencana tindakan keperawatan pada klien Chronic Kidney Desease (CKD)
4.      Telah dilakukan tindakan keparawatan pada klien Chronic Kidney Desease (CKD)
5.      Telah dilakukan evaluasi keperawatan pada klien Chronic Kidney Desease (CKD)
6.      Telah diketahui kesenjangan antara teori dan praktek.
B.    Saran
1.      Bagi Rumah Sakit, untuk lebih meningkatkan mutu pelayanan kesehatan terutama dalam menerapkan asuhan keperawatan Chronic Kidney Desease (CKD).
2.      Bagi institusi pendidikkan, kiranya lebih meningkatkan mutu pendidikan guna menambah literatur / referensi untuk kelengkapan perkuliahan.
3.      Bagi klien, untuk lebih meningkatkan status kesehatan dengan cara memeriksakan diri ditempat-tempat pelayanan kesehatan dan menggunakan tempat pelayanan kesehatan terdekat.
4.      Bagi mahasiswa-mahasiswi akper Totabuan, kiranya lebih meningkatkan kompetensi dan wawasan tentang perkembangan teori-teori terbaru dalam dunia kesehatan terutama dalam penerapan asuhan keperawatan  Chronic Kidney Desease (CKD)

















DAFTAR PUSTAKA

Price, Sylvia A dan Lorraine M Wilson. (1995). Patofisiologi Konsep Kllinis Proses-proses Penyakit. Edisi 4. Hal 912 Jakarta : EGC

Doenges M, dkk. 1999. Rencana  Asuhan  Keperawatan  Edisi  III. Hal 626 Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Smeltzer, S. C dan Brenda G Bare. (2001). Hal. 1448 Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta :EGC

M. Arif  dkk. 2001. Kapita Selekta, Gagal ginjal kronik Hal 531,  Penerbit Media Aesculapius. Fakultas kedokteran UI.

Long, B C. (1996). Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses Keperawatan) Jilid 3. Hal 368. Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan

Suyono, Slamet. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 3. Jilid I II. Jakarta.: Balai Penerbit FKUI

Anomim. 2011, dalam (Data survey   :http://www.antaranews.com/internasional.data-info-kesehatan.html). 10/072011 19:00 WITA








Tidak ada komentar:

Posting Komentar